Siang ini hujan turun
rintik. Aku melihat dia belari kecil berpayungkan tas kerjanya menuju Coffee Shop dimana aku berada. 'Cantik'.
Pikirku.
Dengan rambut yang sedikit
basah terurai dan kaca mata yang bertenger tepat diatas hidung mancungnya, dia
selalu berhasil membuatku terhipnotis. Jika tak kulihat punggungnya mungkin aku
akan berfikir dia adalah seorang Bidadari yang turun dari Nirwana.
Siang ini aku kembali
beruntung berada tepat didepannya, memandang goresan lekuk suatu mahakarya
indah sang pencipta. Memandang senyum itu, ya dia selalu tersenyum ketika
memandangku. Aku selalu berhasil membuat hatinya tenang ketika gundah, aku
selalu bisa menghilangkan air mata dipipinya, aku yang dicarinya ketika senang,
aku selalu berhasil membuat dia tersenyum.
***
Ini pertemuan kami yang
kesekian kalinya ketika pertama kali dia datang dengan wajah gundahnya. Aku
ingat saat itu dia memesan Coffee Late.
Sambil memandang layar Smart Phone
miliknya, waktu itu aku tidak melihat senyum manisnya, hanya air mata yang
sesekali diusap dengan jemari lentiknya. Dia berkata lirih, "Semoga aku
bisa melupakanmu".
Ntah kenapa aku menjadi
tertarik dengan wanita ini. Apa karena rasa ibaku yang tak bisa melihat air
mata seorang wanita atau memang karena si cupid telah menembakkan panah
asmaranya padaku. Dan untuk pertama kalinya juga aku melihat senyum seorang
Bidadari, walaupun senyum itu perih.
"Sama seperti kopi ini, manis, namun sedikit
pahit diakhir hirupan". Ucapnya sambil tersenyum.
***
Sore senja. Hujan yang
sedari tadi memandikan Kota Pontianak sudah berganti dengan jingga-nya senja.
Dia masih asyik memainkan jemari lentiknya pada Smart Phone asal negeri gingseng itu, aku hanya diam memandangnya.
Apapun akan kulakukan hanya untuk melihat senyum itu, seperti saat ini.
Aku tahu dia suka aku
walaupun kata itu tidak pernah keluar dari bibir tipisnya. Dari cara dia
memandangku, menyentuh bibirku sebelum menempelkan pada bibirnya, aku tahu dia
menyukaiku. Dia selalu menyentuh lembut bibirku dengan jemari lentiknya ketika
ingin menempelkan pada bibirnya. Saat itu aku juga bisa merasakan hatinya
ketika bibir kami berpangutan. Aku bisa merasakan kesedihannya, rasa gundahnya,
rasa senangnya disaat bibir kami menyatu. Tidak ada nafsu disitu, semua murni
karena suka kami. Suka dia padaku yang selalu bisa membuatnya tersenyum dan
sukaku yang bisa selalu melihat dia tersenyum.
***
Dia melihat jam ditangannya.
'Mungkin dia sudah ingin pulang'. Pikirku.
Ntah kenapa hari ini aku
tidak ingin berpisah dengannya. Aku masih ingin jemarinya bermain dibibirku,
aku masih ingin menyentuh bibirnya dengan bibirku, aku masih ingin lama melihat
senyumnya. Senyum yang membuatku rela duduk diam didepannya.
Tidak kusia-siakan setiap
detik bersamanya. Kunikmati tiap sentuhannya pada tubuhku, dipegangnya erat
tubuhku sebelum disentuhkannya kembali bibirnya dan bibirku. Tuhan, sungguh aku
menyukainya!
***
Smart Phone-nya
kembali berdering untuk kesekian kali. Ntah siapa yang menelponnya, yang
kudengar hanya suara samar seorang pria diseberang sana. Ingin sekali
kumematikan teleponnya yang berhasil mengalihkannya padaku. Apa dia tidak sadar
aku sedang cemburu memandangnya? Sedangkan dia hanya tersenyum melihatku.
"Oke, aku tunggu kamu menjemputku disini".
Ucapnya mengakhiri pembicaraannya ditelepon.
Aku terus diam memandangnya.
Aku cemburu pada lelaki ditelepon yang berhasil mengalihkannya padaku. Dan dia
kembali tersenyum melihatku, senyum yang selalu berhasil meluluhkan rasa
cemburuku untuknya. Aku tidak bisa akan marah ketika melihat senyum itu. Ingin
sekali aku menyimpan senyum itu hanya untuk diriku.
***
Gemercik bunyi lonceng pintu
Coffee Shop diiringi masuknya seorang
pria jangkung dengan style-an
pengusaha muda lengkap dengan dasi senada warna jas yang digunakannya. Lelaki
itu seperti sedang mencari seseorang yang ingin ditemuinya. Sepertinya aku
kenal lelaki itu, tapi entah aku tidak tahu siapa namanya.
"Tian! Disini." Pekiknya kepada pria itu.
Tian? Ya aku ingat. Pria itu
adalah orang yang berhasil membuatnya menangis dahulu. Lelaki yang membuatnya
datang kemari dan mempertemukannya padaku. Tapi apa yang dilakukan lelaki itu
disini? Apa lelaki itu yang tadi menelponnya? Aku sungguh tidak mengerti
wanita, dia masih saja mau bertemu dengan lelaki yang telah menyakiti hatinya.
Apa wanita memang senang disakiti?
***
Pria itu kini tepat berada
didepan kami, memegang mesrah tangannya. Hai! Apa kau tidak melihatku disini?
Aku cemburu gadisku diperlakukan mesrah oleh lelaki lain. Ingin sekali aku
tepiskan tangan pria itu padanya, tapi aku hanya diam melihat dia tersenyum
dipegang mesrah lelaki flamboyan itu.
Basa basi yang basi dari
lelaki itu berhasil meronakan pipi tirusnya, seakan membuatnya lupa akan sakit
yang diberi pria itu dulu. Menurutku lolucon-an pria itu sangat garing, tapi ntah mengapa malah
membuat dia tertawa lepas? Aku semakin tidak mengerti sifat wanita.
"Aku masih cinta kamu. Maafkan aku yang terlalu
bodoh menyia-nyiakan kamu dulu". Ungkap pria itu pada gadisku.
Kali ini aku benar-benar
cemburu. Tubuhku sudah dipenuhi api yang membakar emosi amarahku. Ingin sekali
kupatahkan tangan lelaki itu agar tidak bisa lagi memegang mesrah tangan
gadisku. Tapi lagi-lagi aku hanya bisa diam melihat betapa bahagianya dia
diperlakukan mesrah oleh pria itu.
"Ayo kita pulang? Hari juga sudah semakin
sore". Ajak pria itu padanya.
'Tidak! Apa dia akan pulang bersama lelaki itu? Lelaki
yang dulu membuatnya menangis?' Geramku.
Aku tidak bisa terus diam,
aku harus segera bergerak. Maka kuraih tangannya dari pria itu. Namun sial
bagiku, genggamanku terlalu lemah padanya sehingga membuatku jatuh dan pecah
berkeping-keping.
Sendu wajahnya melihatku hancur didepannya. Diraihnya
tubuhku yang hancur berkeping-keping. Ada setitik bulir air mata disudut mata
sipitnya.
'Dia menangisiku? Apa dia tidak rela kehilanganku?'
Harapku padanya.
"Sudahlah, nanti kita ganti cangkir yang pecah
itu". Hibur lelaki itu padanya.
'Ganti?' Pekikku.
'Apakah semudah itu dia ingin mengantikanku? Lupakah
dia hanya aku yang bisa menenangkannya disaat gundah, hanya aku yang bisa
membuatnya tersenyum, hanya aku yang dicarinya ketika senang, hanya aku yang
bisa menghilangkan kesedihannya, apakah dia lupa akan itu semua?'
Pandanganku kabur, aku tidak
bisa melihatnya lagi dengan jelas. Pria itu membantunya berdiri dan
meninggalkanku sendiri dengan pecahan hati ditubuhku yang tak berbentuk. Aku
terus berteriak memanggilnya untuk memunggutku. Tapi semakin aku teriak semakin
dia menjauh dan semakin tenagaku habis untuk mengiba padanya. Aku takut, aku
takut untuk sendiri pada kematianku. Aku takut tak akan ada cinta lagi untukku.
Aku takut jika tidak ada lagi cinta untukku, maka aku hanya akan menjadi benda
mati yang tak dicari.
EPILOG:
Aku terbangun dari tidur
panjangku ketika ada sebuah tangan yang mengeluarkanku dari dalam kardus kecil
berisikan banyak potongan kertas. Tempat ini juga asing bagiku. Ini bukan di Coffee Shop tempat biasa aku berada.
Ruangan bernuansa serba putih ini sangat rapi, harumnya juga menenangkan.
"Kamu suka dengan kejutanku?" Tanya seorang
pria.
Aku kenal suara itu, suara
yang kudengar sebelum aku terlelap dalam tidur panjangku. Aku merasakan tubuhku
utuh kembali walaupun tidak seperti sedia kala.
'Aku hidup kembali?' Pikirku.
'Terus cinta dari siapa yang membangkitkan kembali
jiwaku?'
"Sangat, aku sangat suka kejutan ini". Ucap
seorang gadis. Ya itu gadis manisku.
"Ini adalah hadiah terindah dihari spesialku,
sebuah cangkir bergambarkan dua hati yang selalu menemaniku dulu".
Tambahnya.
"Apa kamu yang memperbaikinya?" Tanyanya
kepada pria itu.
Ada titik air mata di kedua
sudut mata indahnya. Lelaki itu hanya tersenyum melihat kebahagiaan yang
dirasakan gadisku.
Hari ini aku begitu sangat
bahagia karena hidup kembali. Ada dua cinta dijiwaku. Terlebih aku bisa melihat
gadisku lagi. Dan aku tahu dia tidak pernah melupakankanku.
Dengan kebaya putih dan kain
tenun ikat sambas berwarna biru
langit, dia begitu cantik dihari ini. Untuk kedua kalinya aku merasa jatuh
cinta padanya. Pada gadis manisku. Aku bahagia untuk bahagiamu juga.
Setelah puas menyentuh
tubuhku, bibirku, dia meletakkanku disebuah meja kecil berwarna putih diruangan
itu sebelum akhirnya mereka keluar ruangan dengan tawa ceria. "Hari ini
kita sudah menjadi orang yang berbeda". Ucapnya pada lelaki itu.
***end***
