LATAR BELAKANG
Membandingkan kepemimpinan Soeharto dan Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY ), merupakan lahan yang teramat menarik meski era masa iierbeda. Perbedaan gaya membuat banyak kalangan punya pendapat yang bermacam, sehingga perdebatan jadi penuh warna. Darisegi kebebasan, pemerintahan Orde Baru lebih buruk. Salah satunya, mematikan kemerdekaan dan demokrasi. Kalau dari segi kebebasan, lebih baik sekarang. Namun, dari sisi kepemimpinan, walau otoriter. Orde Baru lebih baik.
Pemerintah di bawah komando SBY, lanjutnya, tidak tegas dan tidak dan tidak berani mengambil keputusan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan. Soeharto dan SBY berangkat dari kondisi yang sangat berbeda. Soeharto berangkat dari dari keadaan situasi mencekam setelah peristiwa 1965. Berangkat darisituasi ini dalam memerintah Soeharto menggunakan pendekatan keamanan yang luar biasa menakutkan. Masyarakat, parpol, dan kritikus, semua di bawah genggaman Soeharto.
PRESPEKTIF PENDEKATAN KRONOLOGI TERHADAP PERBANDINGAN PEMERINTAHAN MASA SOEHARTO DAN MASA SUSILO BAMBANG YUDHOYONO ( SBY )
Bila dibanding - bandingkan, memang masa Soeharto dan masa Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY ) memiliki beberapa perbedaan. Publik bertanya apa perbedaan Soeharto dengan Presiden SBY ? Berbagai kalangan berpendapat, perbedaan gaya kepemimpinan Soeharto dengan SBY adalah dalam hal kesungguhan mendengar keluhan rakyat, dan keberpihakan kepada rakyat. Meski pemerintahan Soeharto dijalankan secara otoriter, semua tahu dia sangat dekat dengan rakyatnya, selalu menghayati dengan sungguh-sungguh perasaan dan derita rakyat. Salah satu contoh, misalnya, di pemerintahan Soeharto, harga kebutuhan pokok rakyat murah dan mudah didapat. Tarif listrik, harga BBM selalu dijaga agar tetap murah dan terjangkau. Sampai soal harga pupuk agar petani tidak kesulitan, Soeharto sangat peduli. Selain itu, dia juga punya andil besar dalam pembangunan irigasi pertanian yang tersebar diseluruh wilayah nusantara, yang sampai saat ini belum ada presiden yang mampu membangun sejumlah irigasi pertanian itu. Maka tak heran, jika di masa pemerintahannya Indonesia dapat berswasembada pangan. Komitmennya menjaga NKRI dan stabilitas keamanan untuk rakyatnya juga sangat tinggi.
Bagaimana dengan presiden setelah reformasi ? Kita boleh katakan, semua presiden yang muncul setelah Soeharto lengser, termasuk SBY, berasal dari kalangan elite yang tahu dan mengerti persoalan rakyat, tapi tidak pernah mengalami dan merasakan langsung derita sebagai rakyat sehari - hari. Bahkan, SBY di nilai lawan - lawan politiknya lebih mengutamakan politik pencitraan, namun tak pernah membuat hal - hal yang konkret untuk rakyat. Bahkan, semua kebijakannya sangat merugikan rakyat. Buktinya, harga BBM dan kebutuhan pokok rakyat terus naik. Begitu juga tarif listrik. Sampai – sampai harga pupuk selangit. Dalam bidang politik, sejak pemerintahannya sungguh kacau. Antar partai politik saling cakar - cakaran untuk merebut kekuasaan. Pemberantasan korupsi masih memble dan hanya sebatas omdo ( omong doing ). Bahkan, sejumlah petinggi Partai Demokrat, yang mengusungnya menjadi presiden, terlibat dalam kasus - kasus suap dan korupsi. Publik juga tidak melihat keberhasilan pemerintahan SBY dalam membangun perekonomian nasional.
Pola kepemimpinan SBY haruslah seperti mantan Presiden Soeharto. Terutama soal ketegasan dalam melaksanakan sebuah kebijakan negara yang prorakyat. Ada perbedaan, masa Soeharto memang lebih menonjolkan masalah keamanan dan pembangunan ekonomi. Dengan demikian demokrasi sedikit dikesampingkan. Memang masa SBY ini dihadapkan dengan euforia demokrasi dan sesungguhnya ini adalah momen yang kritis untuk SBY. Dia harus mengambil sikap tegas. Karena dia dipilih oleh rakyat dengan 60 persen lebih, seharusnya dia tidak boleh ragu-ragu. Presiden SBY seharusnya tidak usah merasa terpenjara oleh partai - partai koalisi yang ada di sekitarnya. Soalnya mantan Presiden Soeharto ketika memimpin pemerintahan tidak merasa kalau dia dipenjarakan oleh partai. Dia tidak merasa ada yang mengikat kakinya. Pak SBY merasa terikat kakinya oleh kepentingan partai - partai, mestinya itu harus dilepaskan. Kondisi krisis politik dan ekonomi yang terjadi pada saat ini juga pernah dirasakan di masa kepemimpinan Soeharto. Tetapi mantan Presiden Soeharto bisa berhasil mengatasi masalah krisis tersebut. Di masa - masa euforia demokrasi, juga harus mengambil sikap tegas. Tidak semua harus didiskusikan karena SBY kan dipilih oleh rakyat, jadi jangan sedikit-sedikit dia membentuk tim. Harus segera memutuskan karena tugas pokok pemimpin itu adalah memutuskan dengan cepat. Dan tidak harus menimbang apa kata orang.
Kini, Soeharto diagung - agungkan, padahal dia presiden yang digulingkan oleh rakyatnya. Presiden yang dihujat rakyatnya setelah ia lengser. Semua itu seakan - akan sudah dilupakan rakyat, kenapa ? Jawabnya, tentu karena kegagalan presiden - presiden setelah reformasi, termasuk SBY, dalam mensejahterakan rakyat. Kebijakan SBY sudah membuat rakyat terus menjerit dan menangis. Pemerintahan sekarang pun sudah tak bisa lagi menjamin keamanan bagi rakyat, keadilan ekonomi dan hukum. Bahkan, jurang pemisah si kaya si miskin terus melebar.
Bila dibandingkan maka keduanya, Soeharto dan SBY. tentu saja punya cita - cita untuk mensejahterakan rakyatnya, namun denaun cara masing - masing. Soeharto mengunakan pendekatan keamanan hasilnya gemilang, Indonesia sempat mencapai kegemilangan ekonomi. Sedangkan SBY, kini masih tertatih - tatih, lerlebih sudah bukan lagi menjadi pengekspor minyak, melainkan pengimpor.
Pendekatan cara Soeharto mungkin tidak akan bisa dijalankan SBY. Andai SBY memimpin di masanya Soeharto, terutaman setelah 1965, jelas tidak akan mampu, sebab SBY tidak punya ketegasan. Sebaliknya, Soeharto kalau memimpin di masa reformasi seperti sekarang ini, rasanya juga tidak akan kuat, sebab Soeharto anti kritik, tipis telinga. Mendengar kritikan sepedas sekarang, kiranya Soeharto tidak akan tahan.