Senin, 21 April 2014

Cinta Dalam Cangkir



Siang ini hujan turun rintik. Aku melihat dia belari kecil berpayungkan tas kerjanya menuju Coffee Shop dimana aku berada. 'Cantik'. Pikirku.
Dengan rambut yang sedikit basah terurai dan kaca mata yang bertenger tepat diatas hidung mancungnya, dia selalu berhasil membuatku terhipnotis. Jika tak kulihat punggungnya mungkin aku akan berfikir dia adalah seorang Bidadari yang turun dari Nirwana.
Siang ini aku kembali beruntung berada tepat didepannya, memandang goresan lekuk suatu mahakarya indah sang pencipta. Memandang senyum itu, ya dia selalu tersenyum ketika memandangku. Aku selalu berhasil membuat hatinya tenang ketika gundah, aku selalu bisa menghilangkan air mata dipipinya, aku yang dicarinya ketika senang, aku selalu berhasil membuat dia tersenyum.
***
Ini pertemuan kami yang kesekian kalinya ketika pertama kali dia datang dengan wajah gundahnya. Aku ingat saat itu dia memesan Coffee Late. Sambil memandang layar Smart Phone miliknya, waktu itu aku tidak melihat senyum manisnya, hanya air mata yang sesekali diusap dengan jemari lentiknya. Dia berkata lirih, "Semoga aku bisa melupakanmu".
Ntah kenapa aku menjadi tertarik dengan wanita ini. Apa karena rasa ibaku yang tak bisa melihat air mata seorang wanita atau memang karena si cupid telah menembakkan panah asmaranya padaku. Dan untuk pertama kalinya juga aku melihat senyum seorang Bidadari, walaupun senyum itu perih.
"Sama seperti kopi ini, manis, namun sedikit pahit diakhir hirupan". Ucapnya sambil tersenyum.
***
Sore senja. Hujan yang sedari tadi memandikan Kota Pontianak sudah berganti dengan jingga-nya senja. Dia masih asyik memainkan jemari lentiknya pada Smart Phone asal negeri gingseng itu, aku hanya diam memandangnya. Apapun akan kulakukan hanya untuk melihat senyum itu, seperti saat ini.
Aku tahu dia suka aku walaupun kata itu tidak pernah keluar dari bibir tipisnya. Dari cara dia memandangku, menyentuh bibirku sebelum menempelkan pada bibirnya, aku tahu dia menyukaiku. Dia selalu menyentuh lembut bibirku dengan jemari lentiknya ketika ingin menempelkan pada bibirnya. Saat itu aku juga bisa merasakan hatinya ketika bibir kami berpangutan. Aku bisa merasakan kesedihannya, rasa gundahnya, rasa senangnya disaat bibir kami menyatu. Tidak ada nafsu disitu, semua murni karena suka kami. Suka dia padaku yang selalu bisa membuatnya tersenyum dan sukaku yang bisa selalu melihat dia tersenyum.
***
Dia melihat jam ditangannya. 'Mungkin dia sudah ingin pulang'. Pikirku.
Ntah kenapa hari ini aku tidak ingin berpisah dengannya. Aku masih ingin jemarinya bermain dibibirku, aku masih ingin menyentuh bibirnya dengan bibirku, aku masih ingin lama melihat senyumnya. Senyum yang membuatku rela duduk diam didepannya.
Tidak kusia-siakan setiap detik bersamanya. Kunikmati tiap sentuhannya pada tubuhku, dipegangnya erat tubuhku sebelum disentuhkannya kembali bibirnya dan bibirku. Tuhan, sungguh aku menyukainya!
***
Smart Phone-nya kembali berdering untuk kesekian kali. Ntah siapa yang menelponnya, yang kudengar hanya suara samar seorang pria diseberang sana. Ingin sekali kumematikan teleponnya yang berhasil mengalihkannya padaku. Apa dia tidak sadar aku sedang cemburu memandangnya? Sedangkan dia hanya tersenyum melihatku.
"Oke, aku tunggu kamu menjemputku disini". Ucapnya mengakhiri pembicaraannya ditelepon.
Aku terus diam memandangnya. Aku cemburu pada lelaki ditelepon yang berhasil mengalihkannya padaku. Dan dia kembali tersenyum melihatku, senyum yang selalu berhasil meluluhkan rasa cemburuku untuknya. Aku tidak bisa akan marah ketika melihat senyum itu. Ingin sekali aku menyimpan senyum itu hanya untuk diriku.
***
Gemercik bunyi lonceng pintu Coffee Shop diiringi masuknya seorang pria jangkung dengan style-an pengusaha muda lengkap dengan dasi senada warna jas yang digunakannya. Lelaki itu seperti sedang mencari seseorang yang ingin ditemuinya. Sepertinya aku kenal lelaki itu, tapi entah aku tidak tahu siapa namanya.
"Tian! Disini." Pekiknya kepada pria itu.
Tian? Ya aku ingat. Pria itu adalah orang yang berhasil membuatnya menangis dahulu. Lelaki yang membuatnya datang kemari dan mempertemukannya padaku. Tapi apa yang dilakukan lelaki itu disini? Apa lelaki itu yang tadi menelponnya? Aku sungguh tidak mengerti wanita, dia masih saja mau bertemu dengan lelaki yang telah menyakiti hatinya. Apa wanita memang senang disakiti?
***
Pria itu kini tepat berada didepan kami, memegang mesrah tangannya. Hai! Apa kau tidak melihatku disini? Aku cemburu gadisku diperlakukan mesrah oleh lelaki lain. Ingin sekali aku tepiskan tangan pria itu padanya, tapi aku hanya diam melihat dia tersenyum dipegang mesrah lelaki flamboyan itu.
Basa basi yang basi dari lelaki itu berhasil meronakan pipi tirusnya, seakan membuatnya lupa akan sakit yang diberi pria itu dulu. Menurutku lolucon-an pria itu sangat garing, tapi ntah mengapa malah membuat dia tertawa lepas? Aku semakin tidak mengerti sifat wanita.
"Aku masih cinta kamu. Maafkan aku yang terlalu bodoh menyia-nyiakan kamu dulu". Ungkap pria itu pada gadisku.
Kali ini aku benar-benar cemburu. Tubuhku sudah dipenuhi api yang membakar emosi amarahku. Ingin sekali kupatahkan tangan lelaki itu agar tidak bisa lagi memegang mesrah tangan gadisku. Tapi lagi-lagi aku hanya bisa diam melihat betapa bahagianya dia diperlakukan mesrah oleh pria itu.
"Ayo kita pulang? Hari juga sudah semakin sore". Ajak pria itu padanya.
'Tidak! Apa dia akan pulang bersama lelaki itu? Lelaki yang dulu membuatnya menangis?' Geramku.
Aku tidak bisa terus diam, aku harus segera bergerak. Maka kuraih tangannya dari pria itu. Namun sial bagiku, genggamanku terlalu lemah padanya sehingga membuatku jatuh dan pecah berkeping-keping.
Sendu wajahnya melihatku hancur didepannya. Diraihnya tubuhku yang hancur berkeping-keping. Ada setitik bulir air mata disudut mata sipitnya.
'Dia menangisiku? Apa dia tidak rela kehilanganku?' Harapku padanya.
"Sudahlah, nanti kita ganti cangkir yang pecah itu". Hibur lelaki itu padanya.
'Ganti?' Pekikku.
'Apakah semudah itu dia ingin mengantikanku? Lupakah dia hanya aku yang bisa menenangkannya disaat gundah, hanya aku yang bisa membuatnya tersenyum, hanya aku yang dicarinya ketika senang, hanya aku yang bisa menghilangkan kesedihannya, apakah dia lupa akan itu semua?'
Pandanganku kabur, aku tidak bisa melihatnya lagi dengan jelas. Pria itu membantunya berdiri dan meninggalkanku sendiri dengan pecahan hati ditubuhku yang tak berbentuk. Aku terus berteriak memanggilnya untuk memunggutku. Tapi semakin aku teriak semakin dia menjauh dan semakin tenagaku habis untuk mengiba padanya. Aku takut, aku takut untuk sendiri pada kematianku. Aku takut tak akan ada cinta lagi untukku. Aku takut jika tidak ada lagi cinta untukku, maka aku hanya akan menjadi benda mati yang tak dicari.

EPILOG:
Aku terbangun dari tidur panjangku ketika ada sebuah tangan yang mengeluarkanku dari dalam kardus kecil berisikan banyak potongan kertas. Tempat ini juga asing bagiku. Ini bukan di Coffee Shop tempat biasa aku berada. Ruangan bernuansa serba putih ini sangat rapi, harumnya juga menenangkan.
"Kamu suka dengan kejutanku?" Tanya seorang pria.
Aku kenal suara itu, suara yang kudengar sebelum aku terlelap dalam tidur panjangku. Aku merasakan tubuhku utuh kembali walaupun tidak seperti sedia kala.
'Aku hidup kembali?' Pikirku.
'Terus cinta dari siapa yang membangkitkan kembali jiwaku?'
"Sangat, aku sangat suka kejutan ini". Ucap seorang gadis. Ya itu gadis manisku.
"Ini adalah hadiah terindah dihari spesialku, sebuah cangkir bergambarkan dua hati yang selalu menemaniku dulu". Tambahnya.
"Apa kamu yang memperbaikinya?" Tanyanya kepada pria itu.
Ada titik air mata di kedua sudut mata indahnya. Lelaki itu hanya tersenyum melihat kebahagiaan yang dirasakan gadisku.
Hari ini aku begitu sangat bahagia karena hidup kembali. Ada dua cinta dijiwaku. Terlebih aku bisa melihat gadisku lagi. Dan aku tahu dia tidak pernah melupakankanku.
Dengan kebaya putih dan kain tenun ikat sambas berwarna biru langit, dia begitu cantik dihari ini. Untuk kedua kalinya aku merasa jatuh cinta padanya. Pada gadis manisku. Aku bahagia untuk bahagiamu juga.
Setelah puas menyentuh tubuhku, bibirku, dia meletakkanku disebuah meja kecil berwarna putih diruangan itu sebelum akhirnya mereka keluar ruangan dengan tawa ceria. "Hari ini kita sudah menjadi orang yang berbeda". Ucapnya pada lelaki itu.
***end***