Senin, 19 September 2011

" September Rain. . . "

SEPTEMBER RAIN. . .

Kawan, ternyata hari ini hujan juga masih membasahi kota ini, kota kelahiran ku.
Jam telah menunjukkan pukul 03.15 sore, dan aku baru saja terbangun dari tidur siang ku. Masih terasa lelah ku yang bercampur dengan dinginnya cuaca hari ini. Sejenak aku merebahkan tubuh ku kembali diatas kasur untuk mengumpulkan nyawa ku yang terbang bersama mimpi ku siang ini. Aah ternyata tidur siang ini tidak terlalu berhasil. . .
Jam kini menunjukkan pukul 04.00 sore. Begitu segar ku rasa tubuh ku setelah selesai mandi. Diluar hujan juga sudah mulai reda, hanya rintik – rintiknya saja yang masih terasa. Kembali Hp ku berbunyi, yang memang sedari tadi aku mandi terus saja berbunyi. 3 pangilan tidak terjawab dan 2 pesan masuk. Semua berasal dari Joe, sahabat ku. 2 pesan yang sama berisikan,
“ segera siap2,, sebentar lagi ary jemput lo d rumah !!! “
Dalam benak ku sedikit tertawa melihat isi dari pesan tersebut. “ Haha ternyata bahasa ini anak sudah berubah semenjak dia kuliah di Jakarta. “ Pikir ku.
Lalu aku mebalas “ okey ! ! ! “ pada pesan tersebut.
Memang tidak lama, 15 menit Ary sudah berada di depan rumah ku. Wajahnya masih tidak juga berubah. Masih sama seperti Ary yang dulu, pendiam dengan tampilan yang selalu rapi. Dewasa ? ya Ary memang terlihat lebih dewasa dibandingkan dengan aku dan Joe.
Tidak seperti Joe yang memilih untuk berkuliah di Jakarta, aku dan Ary lebih memilih untuk melanjutkan kuliah kami di kota yang sama, kota Pontianak. Walau pun sama – sama melanjutkan study di kota yang sama, aku dan Ary tidak pernah lagi bertemu untuk sekedar kumpul atau pun ngobrol seperti yang biasanya kami lakukan ketika SMA dulu. Ini mungkin dikarenakan kampus kami yang berbeda, sehingga kami tidak memiliki waktu yang pas untuk bertemu dan ngumpul seperti dulu lagi. Dan hari ini, bersamaan dengan liburan semester, kami sudah berada di kota kelahiran kami untuk kembali berkumpul seperti masa SMA dulu.
“ Yuk cabut ! “ Ucap Ary ketika melihat ku yang sudah siap untuk berangkat.
Segera kami bergegas pergi menuju ke Cafe langganan kami sejak SMA dulu, disana Joe juga sudah menunggu kami. Dan kami tidak mau membuat cewek tomboy itu menjadi marah. Karena Jonita itu orang yang sangat tepat waktu dan tidak terlalu suka menunggu. Didalam perjalanan ku pandangi langit di sore ini. Langit yang berwarna jingganya dengan seberkas warna pelangi hasil dari rintik – rintik hujan yang masih sedikit turun. “ Indah ! “ Gumam ku. . .
“ Woi di sini ! “ teriak Joe menyambut kedatangan kami.
Meja paling pojok disebelah kiri. Meja yang selalu kami tepati sejak kami pertama kali datang ke sini ketika SMA dulu. Joe sudah berdiri disana sambil melambaikan tangan.
“ Sudah kau pesan ? “ Tanya ku kepada Joe setelah aku duduk disampingnya.
“ Sudah, seperti yang biasanya. “ Jawabnya. . .
Tak lama pelayan pun datang mengantarkan pesanan dan memecahkan obrolan kami. “ Pelayan baru. “ Pikir ku, karena dulu aku juga tidak pernah melihatnya di Cafe ini.
“ Permisi mas, ini pesanannya. “ Ucapnya sembari tersenyum.
Sekilas ku lihat wajahnya yang tersenyum lagi sebelum dia meninggalkan meja kami. “ Manis. “ Gumam ku didalam hati. Setelah itu mata ku selalu tertuju kepadanya ketika dia berjalan mengantarkan pesanan dari para pelanggan yang datang. Sesekali mata kami saling bertemu hingga dia melemparkan senyumannya lagi pada ku. Walau pun aku sedang berbicara pada Joe dan Ary, mata ku selalu tertuju kepadanya. Ternyata si Cupit telah menembakkan panah asmaranya pada ku. Dalam hati aku bertekat untuk bisa berkenalan dan mencari tahu segala hal tentank dia. Aku pasti bias !
Memang tidak sulit bagi ku untuk mendapatkan segala informasi tentang dia. Dari nama, alamat rumah, no Hp, bahkan hingga alamat Facebooknya, semua dengan mudah aku dapatkan dalam waktu tiga hari. Hal itu dikarenakan aku yang sudah cukup kenal dan berteman dengan para pekerja lama di Cafe tersebut. Ini juga yang memudahkan aku untuk bisa berkenalan secara langsung dengannya. Dalam waktu satu minggu aku sudah menjadi akrab dengannya. Tidak ada lagi kecanggungan pada ku saat berbicara dengannya. Dan ternyata dia orang yang supel dan asyik untuk diajak berbicara. Rani, keturunan melayu – cina itu kali ini benar – benar telah merebut hati ku !
Kawan, dihari ini hujan kembali turun lagi untuk membasahi kota kelahiran ku ini. Membuat malam minggu ku yang sendiri ini menjadi semakin dingin dan sepi. Dan mengapa aku seakan tidak perduli akan turunnya hujan untuk tetap pergi keluar rumah. Ku pacu terus motor ku ditengah sepinya jalanan yang di basahi oleh hujan yang terus turun. Entah mengapa aku malah menghentikan motor ku didepan Cafe ini, Cafe tempat dimana dia bekerja.
Aku masuk kedalam, ketika dia akan mennyanyikan sebuah lagu ‘ White Horse ‘ dari ‘ Taylor Swift ‘ didepan pelanggan yang datang. Dia mulai memetik gitarnya dan aku sangat terbius karena itu.
** ( Chorus )
I’m not a princess, this ain’t a fairy tale
I’m not the one you’ll sweep off her feet,
Lead her up the stairwell
This ain’t Hollywood , this is a small town,
I was a dreamer before you went and let me down
Now it’s too late for you
And your white horse, to come around. . .
Permainan dia begitu memukau aku dan para pelanggan yang datang pada saat itu. Dalam hati aku menimpali lagu yang sedang dinyanyikan olehnya.
“ Bagi ku kamu memang seorang putri sejati, kamu lebih dari sekedar Cinderella didalam dongeng. Tak perlu menunggu mu berada di Hollywood untuk melihat mu bersinar, tak perlu menunggu ibu peri untuk mewujudkan impian itu semua. Cukup kau percaya pada ku, dan aku akan datang menunggangi kuda putih untuk memberikan segala impian yang kamu inginkan. “
Dan aku akan menunggu sampai dia pulang kerja nanti. Malam ini aku ingin bisa kembali jalan – jalan dengannya, sembari mengantarkan dia pulang kerumahnya. . .
Sepanjang hari dada ku terus bergetar dan mengilu karenanya. Dari tadi aku selalu saja senyum – senyum sendiri mengingat tentang dia. Orang – orang yang melihat ku mungkin akan mengatakan bahwa aku ini gila, karena senyum – senyum sendiri. Tetapi bukankah cinta itu memang gila ? Cinta bisa membuat orang yang waras menjadi tidak waras. Cinta juga bisa menjadikan kita bodoh untuk berfikir. Mungkin benar cinta itu buta, dan aku tidak terlalu perduli akan hal itu semua. Karena cinta aku bahkan rela untuk selalu keluar malam hanya untuk menunggu dia pulang kerja dan mengantarkannya pulang kerumah. Atau hanya untuk jalan – jalan, karokean dan sekedar kumpul bareng teman lainnya. Semua itu aku lakukan untuk dia, dan aku bahagia bisa melakukan itu semua. . .
Kawan, hari ini adalah pertengahan bulan September. Langit memang terlihat sedikit mendung sore ini, dan aku sudah berada d Cafe bersama Joe dan beberapa para pelayan Cafe  yang kami kenal sembari mereka tengah santai menunggu pelanggan yang datang. Tetapi tidak ku lihat Rani disini. Sedikit agak kecewa karena Rani Off hari ini. . .
Ary yang kami nanti akhirnya datang setelah 30 menit kami menunggu. Ya kawan, Ary semalam memang menyuruh kami untuk datang ke Cafe sore ini. “ Ada seseorang yang spesial yang ingin ku kenalkan dengan kau dan Joe. “ Jawabnya atas pertanyaan ku.
Ary melangkah masuk menuju kearah kami, tapi tak kulihat seseorang bersamanya. “ Apa Ary bohong ? “ Pikir ku melihat dia hanya sendiri.
Tidak lama setelah itu masuk seorang cewek yang tak asing lagi bagi kami semua. Dilemparkannya sebuah senyuman kepada kami semua, sebuah senyuman yang sangat manis. Rani datang. Dengan wajah senyum merona dia melambaikan tangan kearah kami. “ Manis. “ Gumam ku didalam hati.
“ Sini beib ! “ Pekik Ary.
Beib ? “ Ucap kami serempak.
“ Ya inilah seseorang spesial yang ingin ku kenalkan ke kalian semua. “ Jawab Ary. “ Kami sudah jadian kemarin. “ Tambahnya sembari merangkul tubuh Rani yang telah berada disampingnya.
Serasa seperti dipukul sekuat – kuatnya dengan palu ghodam, aku merasa tidak percaya dengan apa yang barusan ku dengar. Dan aku berharap semoga ini hanya mimpi. Tapi tidak kawan, ini nyata. Mereka benar – benar telah jadian. Aku mengucapkan selamat pada mereka dengan getir mengikuti yang lainnya yang terlebih dahulu sudah mengucapkan selamat pada mereka. . .
Terlihat jelas bahagia diwajah mereka berdua yang merona. Mungkin mereka sedikit malu karena terus digoda oleh yang lainnya. Melihat itu semua aku menjadi panas. Aku semakin gelisah, dan duduk ku juga sudah mulai tidak tenang. Ku putuskan aku harus pulang ! Aku tidak tahu apalagi yang harus ku perbuat disini. Aku takut semakin lama aku berada disini, semakin mereka juga mengetahui kecemburuan ku ini. Beralaskan dengan perut ku yang sakit, aku memutuskan untuk berpamitan dengan mereka semua. . .
Ditengah perjalanan, langit yang sedari tadi mendung kini berubah menjadi hujan yang sangat lebat. “ Sial ! “ Gumam ku. Tidak perduli dengan itu semua, aku terus melaju menerobos derasnya hujan yang turun. “ Mengapa ? Sejak kapan mereka mulai dekat hingga mereka bisa pacaran ? “ Pikir ku tidak percaya.
Aku bingung dengan semua pertanyaan didalam otak ku, yang aku sendiri juga tidak mengetahui jawabannya. Ary tidak pernah bercerita kepada ku kalau dia menyukai Rani. Begitu juga dengan Rani, dia tidak pernah menceritakan kedekatannya kepada Ary. Aku merasa mereka berdua telah benar – benar membodohi ku dengan menghianati ku seperti ini. Mungkin ini juga salah ku yang terlalu berharap besar kepada Rani. Aku juga tidak pernah mengatakan rasa suka ku ini kepada mereka. Aku tidak pernah mengatakan cinta ku pada Rani. Ketakutan ku untuk mengatakan cinta telah mengalahkan ku secara total, mengantarkan ku untuk menjadi seorang pecundang sejati. Menyesal ? Mungkin aku sudah terlambat untuk mengatakan hal itu. Aku merasa sangat kedinginan, tetapi suhu tubuh ku kenapa begitu panas ? Sakit ? Ya aku sakit kawan, aku sudah begitu terlalu sakit. Tidak ada lagi bahagia yang ku rasa ketika mengingat dia. Tidak ada lagi senyum ku ketika membayangkannya. Yang ada kini hanya sesak. Nafas ku terasa sangat sesak setiap mengingat dia.
Kawan yang ku inginkan sekarang hanyalah melupakan dia. Tetapi itu pasti sangat sulit untuk dilakukan. Karena panah itu tertancap terlalu dalam untuk ku cabut. Walau begitu aku harus tetap melakukannya ! Ini demi kebahagiaan mereka bedua, dan juga kebahagian ku. Walau sulit, aku harus menjauhi mereka kawan, menjauhi mereka secara perlahan – lahan, agar aku lebih mudah untuk melupakannya. . .

~ SINGKAWANG : September Rain’2011. . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar