Minggu, 23 Maret 2014

Cinta Memilih Setia



Cinta masih betah memperhatikan sekumpulan siswa-siswi yang tengah latihan PASKIBRA dihalaman sekolah. Dia tidak bergeming sedikitpun dari duduknya untuk melihat seorang cowok jangkung yang menjadi secret admirer-nya selama ini. Dalam bathinnya ingin sekali dia berlari kesana menghapus peluh yang bermain dikening sang idola atau sekedar menyegarkan tenggorakannya dengan sebotol air mineral. Seandainya Yopi cowok jangkung itu menyadari keberadaan dirinya.
Yopi masih saja berteriak ditengah siang bolong seakan bersaing melawan sengatnya terik matahari. Mulutnya terus mengeluarkan mantra-mantra yang akan mengatur baris teman-temannya secara serentak. Peluh terus membasuh wajah putihnya yang malah semakin membuat dirinya tambah mempesona. Banyak para siswi yang memperhatikannya dari tepian lapangan sambil terus menyebutkan namanya, sedangkan sang bintang hanya terfokus pada kegiatannya tanpa perduli teriakan liar tersebut.
Latihan PASKIBRA telah selesai. Layaknya semut yang mengerumuni gula, banyak siswi yang menghampiri Yopi sekedar ingin menghapus peluhnya ataupun memberikan air untuk menghilangkan dahaga sang bintang. Sedangkan Cinta, dia hanya diam terpaku memandang kerumunan itu sambil memegang handuk kecil dan sebotol air mineral.
"Dia tidak memerlukan ini lagi". Ucapnya dalam hati.
***
Hari ini PENSI tahunan digelar. Semua siswa-siswi sibuk dengan kegiatan mereka yang akan dipertunjukkan. Kelas-kelas dirias semenarik mungkin, pentas pun berdiri dengan kokoh ditengah lapangan.
Cinta berdiri diatas pentas untuk menunjukkan kebolehannya bernyanyi sambil memainkan gitar. Kali itu Cinta tampil berbeda dari biasanya. Dia begitu cantik. Seakan terhipnotis alunan lembut syair lagu yang terlontar dari bibir tipisnya membuat semua mata tertuju padanya.
Yopi terpana melihatnya. Kameranya yang sedari tadi dipegang tak henti-hentinya membidik wajah cantik itu. Tak bisa dia sembunyikan senyum yang tergambar dari wajah gantengnya melihat hasil jepretannya tersebut.
"Tunggu sebentar Cinta!"
Terdengar suara yang memecah riuh tepuk tangan setelah Cinta usai bernyanyi. Suara itu berasal dari Firza yang datang sambil membawa sebuah boneka besar berbentuk kodok. Dia tahu Cinta sangat menyukai hal berbau kodok.
Firza bertekuk dibawah Cinta. Diambilnya tangan mulus itu yang pemiliknya sendiri tidak tahu harus berbuat apa.
"Maaf Firza sudah membuat Cinta terkejut". Ucapnya pada Cinta.
"Mungkin bagi Cinta ini terlalu mendadak. Tapi disini Firza ingin mengakui pada Cinta kalo Firza itu sayang dengan Cinta". Tambahnya.
Penonton pun bersorak mendengar ucapan dari kapten ekskul sepak bola itu.
"Disini, disaksikan teman-teman semua Firza ingin mengatakan apa Cinta mau menjadi pacarnya Firza?" Tanyanya pada Cinta.
Mendengar itu para penontonpun semakin heboh. Entah siapa yang memulai semua penonton kontan bersorak menyuruh Cinta untuk menerima ungkapan cinta dari Firza.
Cinta memandang sekelilingnya mencarinya sesosok cowok yang disukainya. Ditatapnya Yopi seakan ingin mengatakan, "Tolong cegah ini, bilang kalo kamu juga cinta sama aku!"
Dipandang Cinta, Yopi hanya tertunduk menatap layar kameranya. Cinta bernafas berat. Cinta mengangguk dan penonton pun bersorak gembira.
***
Delapan tahun kemudian...
Semua Alumni SMA Tunas Bangsa kembali berkumpul disekolah. Ini merupakan reunian pertama mereka semenjak lulus sekolah. Cinta berjalan menyelusuri lorong-lorong sekolah digelapnya malam. Sesaat langkahnya terhenti didepan ruang labotorium. Ingatannya kembali memutar mundur untuk mengenang setiap peristiwa yang pernah dialaminya sewaktu sekolah dulu. Labotorium ini, tepat berada dilantai 2 adalah saksi bisu dimana dia selalu memandang Yopi lelaki yang dulu dia sukai.
"Cinta?" Sapa seorang lelaki.
"Iya kamu benaran Cinta!" Katanya dengan penuh semangat.
Dipeluknya tubuh wanita itu. Sudah lama dia ingin melakukan ini. Semua kosongnya selama ini seakan lenyap begitu saja. Tak ingin dia melepaskan pelukan ini untuk beberapa saat. Inilah yang selama ini dia inginkan, memeluk erat tubuh orang yang sangat dicintainya dari SMA dulu.
***
Cinta masih tak percaya apa yang terjadi. Ketika dia mengingat kenangannya sewaktu SMA dulu, Yopi datang menyapa dan memeluknya. Cinta diam mematung dicor dengan beton rindu yang semakin mengeras. Ingin dia berharap sang waktu dapat berhenti sesaat untuk menikmati pelukan ini.
Cinta mengeluarkan sebuah album poto berwarna biru muda dari dalam tasnya. Disampul depan tertulis susunan kata-kata berwarnakan merah cerah.
'Dialah alasan malam-malamku yang tak pernah gelap.
Dialah senjaku yang selalu berakhir jingga.
Dialah kosongku yang tak ingin aku isi selain dia.
Dan dia adalah CINTA...'
Didalamnya seperti potongan cerita dimana Cintalah yang menjadi peran utamanya. Potonya terpasang rapi seakan bercerita setiap momment yang dilewatinya selama SMA dulu.
"Aku mendapatinya didepan rumahku sebelum aku berangkat ke Jakarta". Ucap Cinta lirih.
"Ini milikmu? Aku hafal betul setiap lekuk tulisanmu". Sambungnya.
"Iya, itu adalah perwakilan rasaku selama ini padamu. Perasaan kalo aku cinta kamu Cinta". Jawab Yopi.
Cinta menangis sesegukkan. Disentuhnya wajah lelaki itu yang kini sudah ditumbuhi kumis tipis. Wajah itu tidak berubah, tetap ganteng, malah kini semakin macho dengan kumis tipis yang bertengger diatas bibirnya. Dijelajahinya setiap inchi dari wajah tersebut. Matanya, hidungnya, bibirnya semua yang membuat dia dulu tertarik dengan sosok didepannya ini.
Tanpa sengaja Cinta melihat cincin putih yang melingkar dijari manisnya. Sentak dia menarik tangannya dari wajah Yopi.
"Ada apa?" Tanya Yopi padanya.
"Kenapa Yop? Kenapa baru sekarang kamu katakan kalimat itu?" Ucapnya sesegukkan.
"Aku selalu menunggumu untuk mengatakan kalimat itu. Aku selalu menunggu kalo cintaku padamu itu tak bertepuk sebelah tangan".
"Maafkan aku Cinta. Maaf.. Maaf Cinta.." Jawab Yopi dengan meneteskan air mata.
Hanya itu kata yang bisa keluar dari mulutnya. Bahkan sekarang diapun tidak bisa menenangkan perasaan orang yang disayangnya yang sedang menangis.
"Cinta.. Cinta.. Kamu dimana?" Teriakan seorang lelaki dari luar ruangan.
Sesegera Cinta menghapus air mata yang membasahi wajah cantiknya.
"Kamu mengapa disini sayang?" Tanya lelaki itu sambil melingkarkan tangannya ketubuh langsing Cinta.
"Kenalkan ini Langit tunanganku". Ucap Cinta seakan menjawab tanda tanya besar diwajah Yopi.
Langit lalu mengulurkan tangan menyalami Yopi yang masih terdiam seakan tak percaya dengan kata-kata yang barusan dia dengar. Yopi tak pernah tau bahwa Cinta sudah bertunangan. Dan sekarang lelaki itu, lelaki yang menjadi tunangan Cinta tepat berada didepannya.
"Acaranya sudah dimulai. Kita kesana yuk?" Ajak Langit kepada Cinta.
"Kita duluan kesana Yop". Kata Langit berpamitan kepada Yopi.
Sebelum pergi Cinta mengeluarkan sebuah undangan beramplopkan warna pink dan memberikannya kepada Yopi.
"Aku harap kamu bisa datang nantinya". Bisik Cinta lirih kepada Yopi.
Yopi memandang sayu undangan tersebut. Didepan amplopnya bertuliskan,
'Wedding Party
Pontianak, 08 Juli ...
Cinta & Langit'
***
Yopi terduduk sambil menangis. Tulangnya tiba-tiba merasa rapuh untuk menompang berat tubuhnya. Begitu keras sang cinta memainkan perasaannya. Begitu sadis rasa yang harus dia terima. Sedetik dia dibuat melayang bertemu kembali dengan gadis yang disukainya. Sedetik kemudian dia dibuat terhempas kedasar jurang patah hati.
Harusnya dia dulu lebih berani untuk berdiri diatas pentas mengutarakan cintanya pada Cinta. Seharusnya dia bisa merasakan sapuan tangan lembut Cinta menghapus peluh setiap kali dia selesai latihan. Seharusnya dia yang melingkari cincin itu dijari manis Cinta. Dan seharusnya nama dia yang tertulis diundangan ini menyandingkan nama Cinta.
Cinta sudah terlambat. Yopi hanya bisa menangisi semua penyesalannya selama ini. Dia meremas keras undangan tersebut. Tidak ada lagi kesempatan kedua untuknya. Cinta sudah memilih, tapi bukan dia yang dipilih Cinta. Cinta memilih setia. Setia pada Langit, tunangannya.