Cinta
masih betah memperhatikan sekumpulan siswa-siswi yang tengah latihan PASKIBRA
dihalaman sekolah. Dia tidak bergeming sedikitpun dari duduknya untuk melihat
seorang cowok jangkung yang menjadi secret
admirer-nya selama ini.
Dalam bathinnya ingin sekali dia berlari kesana menghapus peluh yang bermain dikening
sang idola
atau sekedar menyegarkan tenggorakannya dengan sebotol air mineral. Seandainya Yopi cowok jangkung itu menyadari keberadaan
dirinya.
Yopi masih saja berteriak ditengah siang bolong seakan
bersaing melawan sengatnya terik matahari. Mulutnya terus mengeluarkan
mantra-mantra yang akan mengatur baris teman-temannya secara serentak. Peluh
terus membasuh wajah putihnya yang malah semakin membuat dirinya
tambah mempesona. Banyak para siswi yang memperhatikannya dari tepian lapangan
sambil terus menyebutkan namanya, sedangkan sang bintang hanya terfokus pada
kegiatannya tanpa perduli teriakan liar tersebut.
Latihan PASKIBRA telah selesai. Layaknya semut yang
mengerumuni gula, banyak siswi yang menghampiri Yopi sekedar ingin menghapus peluhnya
ataupun memberikan air untuk menghilangkan dahaga sang bintang. Sedangkan Cinta,
dia hanya diam terpaku memandang kerumunan itu sambil memegang handuk kecil dan
sebotol air mineral.
"Dia tidak memerlukan ini lagi". Ucapnya
dalam hati.
***
Hari ini PENSI tahunan digelar. Semua siswa-siswi
sibuk dengan kegiatan mereka yang akan dipertunjukkan. Kelas-kelas dirias
semenarik mungkin, pentas pun berdiri dengan kokoh ditengah lapangan.
Cinta berdiri diatas pentas untuk menunjukkan
kebolehannya bernyanyi sambil memainkan gitar. Kali itu Cinta tampil berbeda
dari biasanya. Dia begitu cantik. Seakan terhipnotis alunan lembut syair lagu
yang terlontar dari bibir tipisnya membuat semua mata tertuju padanya.
Yopi terpana melihatnya. Kameranya yang sedari tadi
dipegang tak henti-hentinya membidik wajah cantik itu. Tak bisa dia sembunyikan
senyum yang tergambar dari wajah gantengnya melihat hasil jepretannya tersebut.
"Tunggu sebentar Cinta!"
Terdengar suara yang memecah riuh tepuk tangan setelah
Cinta usai bernyanyi. Suara itu berasal dari Firza yang datang sambil membawa
sebuah boneka besar berbentuk kodok. Dia tahu Cinta sangat menyukai hal berbau
kodok.
Firza bertekuk dibawah Cinta. Diambilnya tangan mulus
itu yang pemiliknya sendiri tidak tahu harus berbuat apa.
"Maaf Firza sudah membuat Cinta terkejut".
Ucapnya pada Cinta.
"Mungkin bagi Cinta ini terlalu mendadak. Tapi
disini Firza ingin mengakui pada Cinta kalo Firza itu sayang dengan
Cinta". Tambahnya.
Penonton pun bersorak mendengar ucapan dari kapten
ekskul sepak bola itu.
"Disini, disaksikan teman-teman semua Firza ingin
mengatakan apa Cinta mau menjadi pacarnya Firza?" Tanyanya pada Cinta.
Mendengar itu para penontonpun semakin heboh. Entah
siapa yang memulai semua penonton kontan bersorak menyuruh Cinta untuk menerima
ungkapan cinta dari Firza.
Cinta memandang sekelilingnya
mencarinya sesosok cowok yang
disukainya. Ditatapnya Yopi seakan ingin mengatakan, "Tolong cegah ini,
bilang kalo kamu juga cinta sama aku!"
Dipandang Cinta, Yopi hanya tertunduk menatap layar
kameranya. Cinta bernafas berat. Cinta mengangguk dan penonton pun bersorak
gembira.
***
Delapan tahun kemudian...
Semua Alumni SMA Tunas Bangsa
kembali berkumpul disekolah. Ini merupakan reunian pertama mereka semenjak lulus
sekolah. Cinta berjalan menyelusuri lorong-lorong sekolah digelapnya malam.
Sesaat langkahnya terhenti didepan ruang labotorium. Ingatannya kembali memutar
mundur untuk mengenang setiap peristiwa yang pernah dialaminya
sewaktu sekolah dulu. Labotorium ini, tepat berada dilantai 2 adalah saksi bisu
dimana dia selalu memandang Yopi lelaki yang dulu dia sukai.
"Cinta?" Sapa seorang lelaki.
"Iya kamu benaran Cinta!" Katanya dengan
penuh semangat.
Dipeluknya tubuh wanita itu. Sudah lama dia ingin
melakukan ini. Semua kosongnya selama ini seakan lenyap begitu saja. Tak ingin dia
melepaskan pelukan ini untuk beberapa saat. Inilah yang selama ini dia inginkan, memeluk erat tubuh
orang yang sangat dicintainya dari SMA dulu.
***
Cinta masih tak percaya apa yang terjadi. Ketika dia
mengingat kenangannya sewaktu SMA dulu, Yopi datang menyapa dan memeluknya.
Cinta diam mematung dicor dengan beton rindu yang semakin mengeras. Ingin dia
berharap sang waktu dapat berhenti sesaat untuk menikmati pelukan ini.
Cinta mengeluarkan sebuah album poto berwarna biru
muda dari dalam tasnya. Disampul depan tertulis susunan kata-kata berwarnakan
merah cerah.
'Dialah alasan malam-malamku yang tak pernah gelap.
Dialah senjaku yang selalu berakhir jingga.
Dialah kosongku yang tak ingin aku isi selain dia.
Dan
dia adalah CINTA...'
Didalamnya seperti potongan cerita dimana Cintalah yang menjadi peran utamanya. Potonya terpasang rapi
seakan bercerita setiap momment yang dilewatinya selama SMA dulu.
"Aku mendapatinya didepan rumahku sebelum aku
berangkat ke Jakarta". Ucap Cinta lirih.
"Ini milikmu? Aku hafal betul setiap lekuk
tulisanmu". Sambungnya.
"Iya, itu adalah perwakilan rasaku selama ini
padamu. Perasaan kalo aku cinta kamu Cinta". Jawab Yopi.
Cinta menangis sesegukkan. Disentuhnya wajah lelaki
itu yang kini sudah ditumbuhi kumis tipis. Wajah itu tidak berubah, tetap
ganteng, malah kini semakin macho dengan kumis tipis yang bertengger diatas
bibirnya. Dijelajahinya setiap inchi dari wajah tersebut. Matanya, hidungnya,
bibirnya semua yang membuat dia dulu tertarik dengan sosok didepannya ini.
Tanpa sengaja Cinta melihat cincin putih yang
melingkar dijari manisnya. Sentak dia menarik tangannya dari wajah Yopi.
"Ada apa?" Tanya Yopi padanya.
"Kenapa Yop? Kenapa baru sekarang kamu katakan
kalimat itu?" Ucapnya sesegukkan.
"Aku selalu menunggumu untuk mengatakan kalimat
itu. Aku selalu menunggu kalo cintaku padamu itu tak bertepuk sebelah
tangan".
"Maafkan aku Cinta. Maaf.. Maaf Cinta.."
Jawab Yopi dengan meneteskan air mata.
Hanya itu kata yang bisa keluar dari mulutnya. Bahkan
sekarang diapun tidak bisa menenangkan perasaan orang yang disayangnya yang
sedang menangis.
"Cinta.. Cinta.. Kamu dimana?" Teriakan
seorang lelaki dari luar ruangan.
Sesegera Cinta menghapus air mata yang membasahi wajah
cantiknya.
"Kamu mengapa disini sayang?" Tanya lelaki
itu sambil melingkarkan tangannya ketubuh langsing Cinta.
"Kenalkan ini Langit tunanganku". Ucap Cinta
seakan menjawab tanda tanya besar diwajah Yopi.
Langit lalu mengulurkan tangan menyalami Yopi yang
masih terdiam seakan tak percaya dengan kata-kata yang barusan dia dengar. Yopi
tak pernah tau bahwa Cinta sudah bertunangan. Dan sekarang lelaki itu, lelaki
yang menjadi tunangan Cinta tepat berada didepannya.
"Acaranya sudah dimulai. Kita kesana yuk?"
Ajak Langit kepada Cinta.
"Kita duluan kesana Yop". Kata Langit
berpamitan kepada Yopi.
Sebelum pergi Cinta mengeluarkan sebuah undangan
beramplopkan warna pink dan memberikannya kepada Yopi.
"Aku harap kamu bisa datang nantinya". Bisik
Cinta lirih kepada Yopi.
Yopi memandang sayu undangan tersebut. Didepan
amplopnya bertuliskan,
'Wedding Party
Pontianak, 08 Juli ...
Cinta & Langit'
***
Yopi terduduk sambil menangis. Tulangnya tiba-tiba
merasa rapuh untuk menompang berat tubuhnya. Begitu keras sang cinta memainkan
perasaannya. Begitu sadis rasa yang harus dia terima. Sedetik dia dibuat
melayang bertemu kembali dengan gadis yang disukainya. Sedetik kemudian dia
dibuat terhempas kedasar jurang patah hati.
Harusnya dia dulu lebih berani untuk berdiri diatas
pentas mengutarakan cintanya pada Cinta. Seharusnya dia bisa merasakan sapuan
tangan lembut Cinta menghapus peluh setiap kali dia selesai
latihan. Seharusnya dia yang
melingkari cincin itu dijari manis Cinta. Dan seharusnya nama dia yang tertulis
diundangan ini menyandingkan nama Cinta.
Cinta sudah terlambat. Yopi hanya bisa menangisi semua
penyesalannya selama ini. Dia meremas keras undangan tersebut. Tidak ada lagi
kesempatan kedua untuknya. Cinta sudah memilih, tapi bukan dia yang dipilih
Cinta. Cinta memilih setia. Setia pada Langit, tunangannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar